Apa jadinya, jikalau kasih sayang hilang dalam hati seseorang, kegelapan, kegelisahan, persaingan dan pertengkaran mugkin akan bergejolak di bumi ini.
Syakir, Syamil, dan Syakhiy adalah 3 orang yang memiliki nama yang hampir sama, namun kehidupan yang saling berkebalikan. Syakir adalah seorang anak yang tinggal dalam sebuah keluarga yang berkecukupan, ya bisa dibilang keluarganya adalah keluarga yang terpandang di daerahnya, Ayah dan Ibunya seorang pengusaha yang sukses, dan Ia memiliki dua orang kakak yang juga sibuk dengan urusannya masing-masing Winka dan Arya itulah nama mereka. Winka Sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya dan Arya sibuk dengan bandnya. Oh iya, Syakir jga punya pembantu, namanya bi’ Maryam. Bibi Marym inilah yang mengurusi Syakir saat di rumah.
Syamil, Syamil tinggal berempat bersama ayah, ibu dan Santi kakaknya. Mereka hidup sederhana Ayahnya seorang petani, dan ibunya jualan gado-gado di halaman rumah, dan kakaknya Santi masih sekolah, namun setelah pulang sekolah dia sering ngebantuin Ibunya jualan gado-gado. Dia juga punya prestasi di sekolahnya,.
Syakhiy terlahir dari keluarga yang kurang berada, Ibunya jualan di Pasar ayahnya pemulung sampah. Syakhiy sering banget ikut ngebantuin ayahnya nyari sampah-sampah yang punya nilai jual, hal ini sering dilakukannya saat pulang dari sekolah. Akan tetapi, walaupun dia terlahir dari keluarga yang miskin, namun dia tidak pernah merasa kurang kasih sayang.
“Aduh, sakit…” jeritan syamil yg terkena bola basket. “Maaf, maaf, maaf teman, saya g’ sengaja…” sambung syakir setelah syamil menjerit. Hmm, kok aku baru liat kamu ya di sini, kamu murid baru ya? Kata Sakhiy. Iya, aku Syamil. Aku baru aja masuk hari ini, kelaspun saya belum tahu di tempatinnya dimana. Owh, gi2 ya, kenalkan aku Sakhiy, maaf ya saya g’ sengaja ngelempar kamu dengan bola tadi, maafin ya! Hmm, iya deh g’ apa-apa…ini kan juga salah saya, lewat g’ liat-liat kalau ada yang lagi main basket, sambung Syamil. Kring, kring, kring…. Ya udah Mil, saya balik ke kelas lebih dulu ya, bel masuk sudah berbunyi. Sampai jumpa nanti…
@ruang kelas Sakhiy… “Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang….” “Assalamu’alaikum!!!” potong ibu’ Ani dari balik pintu. “Silahkan masuk bu” kata ibu Yanti yang lagi ngajar di kelas. “Maaf bu, ganggu. Ini ada murid baru” sini nak, silahkan masuk dan kenalkan nama kamu di depan teman-teman yang lain.” Makasih bu’, hmm selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Syamil, saya pindahan dari polman. Salam kenal ya!”. “Silahkan duduk nak”, kata ibu guru. Syamilpun berjalan sambil nyari tempat duduk yang kosong, dan kebetulan di samping Sakhiy ada tempat duduk yang masih kosong. “Hai, kamu yang tadikan?” kata Sakhiy. “Iya” sambung syamil. “Oh iya, selamat bergabung di kelas kami ya, semoga kamu betah berada di sekolah ini.” Lanjut, Sakhiy. Iya, makasih…
“Jam istirahat”. Syamil dan Sakhiy jalan berdua menuju kantin. Namun tiba-tiba salah seorang kawan mereka yang menghalangi jalan mereka, dia adalah Syakir. Syakir terkenal dengan kenakalannya. Saat Syamil dan Sakhiy berjalan, tiba-tiba Syakir menabrak syamil, yang membuat syamil terjatuh dan buku-buku yang ia bawa semuanya ikut terjatuh bersama Syamil. “Hei kamu, kalau jalan liat-liat dong!!!!” Celetuk Syakir. “Kamu yang seharusnya liat-liat, saya tahu kok kamu sengaja kan ngelakuin ini? Minta maaf gih!” Sambung Sakhiy. “Ngapain gue minta maaf, emangnya saya apanya dia, dia yang salah kok”, kata syakir sambil berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Sabar Khiy, sabar… saya g’ apa2 kok, ini sudah biasa… sambung Syamil, menenangkan Syakhiy yang sedang marah.
Kring, kring, kring… bel pulangpun berbunyi, anak-anak berlarian keluar dari kelas untuk pulang ke rumah. “Mil, tunggu… kita bareng yuk pulangnya!”, baiklah Khiy, yuk! Merekapun pulang berdua, sambil bercerita-cerita. “Mil, kamu tahu g’ kenapa Syakir sikapnya sampai kayak begitu?” g’ Khiy, knapa emangnya? Hmm, dulu Syakir dan saya pernah dekat kayak kita gini mil, namun entah kenapa lama kelamaan Syakir malah menjauh dari saya. Dulu saya pernah nanyain hal ini kepada dia, dan dia hanya berkata saya iri dengan kamu, kamu punya ayah dan ibu yang miskin tapi kenapa, kasih sayang yang kamu punya tidak saya miliki?”. Mil, sebenarya sampai sekarang saya g’ ngerti dengan katanya dia yang seperti itu… menurut kamu mil? Hmm, gimana ya sayapun juga g’ tahu…ya udah Mil, rumahku dalam lorong ini , saya deluan ya! Ok, Khiy. Sambil bejalan Syamil memikirkan perkataan Sakhiy. Aha! Mungkin besok saya bisa cari tahu tentang hal ini.
{Hari berikutnya}, saat bel pulang berbunyi, “Mil bareng lagi yuk pulangnya!” “Hmm, maaf Khiy hari ini saya lambat pulangnya, saya mau nyusul ayah ke sawah dulu, mau ngambil pesanan ibu!” Kata Syamil, nyari-nyari alasan. “Baiklah Mil, kalau gitu, saya deluan ya! Assalamu’alaikum”… “Wa’alaikumsalam,” sambung Syamil.
Assalamu’alaikum Kir! Sapa Syamil,. Hmm, ngapain kamu disini?… sambung Syakir. G’ kir saya Cuma pengen main-main kerumah kamu aja, boleh g’ kir? Aha, kesempatan nih, saya bisa ngerjain Syamil nih, mumpung dia g’ ditemanin ama si Sakhiy. Batin Syakir. Ayolah kalu gi2! Beneran? Iya, cepat nai ke mobilQ.
@rumah Syakir… Wah sunyi banget ya, mama, bapak dan saudara-saudara kamu kemana kir, kok sunyi banget? Mereka semua sibuk dengan kerjaannya masing-masing! ah, udah ah g’ usah nanya-nanya mereka! “Owh, jadi ini ya, penyebab dari kenkalannya Syakir… Syakir kurang mendapat perhatian dari keluarganya, makanya di sekolah dia sering baget cari-cari masalah soalnya dia pengen diperhatiin toh.” Celetuk syamil dalam batinnya… Mil, sini Mil mumpung kamu lagi di rumah saya, saya pengen kamu ngerjain semua tugas-tugas saya yang disuruh ama ibu guru! Kata syakir denga muka yang sinis. Baiklah, karena ini permintaanmu, saya akan coba kerjakan.
Sepulang dari rumah Syakir, Syamil singgah ke rumah Ibu Ani menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sama Syakir sehingga sekarang dia menjadi nakal seperti ini. Akhirnya Syamil dan Ibu Ani berencana untuk mendatangi orang tua Syakir dan memberikan secercah nasihat buatnya. Pak, bu’ maaf kalau saya lancang, aya Cuma pengen bilang kalau bapak dan ibu jangan terlalu sibuk dengan urusan bisnis, karena anak-anak ibu juga butuh perhatian, butuh kasih sayang dari orang tua mereka bukannya kasih sayang dari pembantu… kan hasilnya jadi gini, Syakir sering membuat onar di sekolah, karena dia berpikir dengan keonaran yang dia buat dia akan mendapat perhatian dari ibu dan bapak, tapi apa bukannya ibu dan bapak memberikan kasih sayang, malah syakir sering dititipin ama bibi’ di rumah. Pulang dari sekolah sunyi, makan sendiri di rumah hanya bibi yang terlihat.
Syakir… bangun!!! Waktunya sekolah, ayo nak cepat-cepat bangunnya, ntar teat loh ke sekolahnya… hah, itukan suaranya mama, dengan perasaan senang Syakir terbangun dari tidurnya dan melihat ibunya ada di dekatnya sedang membangunkannya, Syakir langsung memeluk ibunya dan sedikit mengeluarkan air mata. Bu’ makasiih ya bu’, akhirnya hal yang telah aku tunggu datang juga, ibu yang sibuk dengan bisnis sekarang bisa sedikit memberikan perhatian sama saya, makasih ya bu’. Hmm, tapi kenapa bisa tiba-tiba gini bu’? iya nak, ini berkat ibu Ani dan teman kamu Syamil, kemarin mereka menemui ibu dan menjelaskan semuanya. Hah, Syamil??? Hmm, ya udah bu’ saya mandi dulu ntar ke sekolahnya telat lagi.
@sekolah… Syamil!!! Teriak syakir yang berlari mendekati Syamil… Mil, maafin saya ya, kmarin-kemarin saya sudah jahat sama kamu, saya Cuma pengen dapat perhatian dari kalian semua... maafin ya Mil!!! Dan satu lagi, makasih atas usahamu yang sudah menyadarkan orang tua saya, akan kesalahannya selama ini… Kata Syakir sambil memeluk erat Syamil. Iya kir, g’ apa2 kok, itu sudah tugas saya sebagai teman kamu…sambung Syamil.
Dengan penuh tanda tanya, Sakhiy pun mendekati mereka berdua, Mil, Kir ada apa ini kok tumben-tumbenan kalian baikan kayak gini? Khiy, maafin aku juga ya! Sambung Syakir yang langsung memeluk Syakhiy jga. Aduh, makin pusing aja nih, memangnya ada apa sih? Maafin aku Khiy, aku sudah sadar kalau apa yang saya lakukan selama ini itu salah, saya hanya pikir kepentinganku saja tanpa merasakan kesakitan yang kalian rasakan atas perbuatanku selama ini. Iya kir, iya… saya sudah maafin kok! Akhirnya mereka bertiga berpelukan dan mereka menjalani hari-hari mereka bersama-sama, susah ataupun senang mereka jalani bersama-sama.
Akhir kata, “Harta yang melimpah, kedudukan yang tinggi tidak akan mampu menyaingi kasih sayang, karena tanpa kasih sayang, kehidupan akan tiada berarti. Ibarat tanaman, jikalau kita tidak memberikannya kasih sayang, tidak merawatnya, tidak menyiramnya setiap hari tanamannyapun akan layu atau bahkan mati. Jadi, pupuklah rasa kasih sayang itu dalam diri anda, agar kebahagiaan dapat anda capai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar